Thursday, October 17, 2013

“Bahagia” itu kata yang tanpa arti

Posted by Unknown at 9:13 AM 0 comments
“Saya Bahagia”
 “Iya, saya bahagia” terlintas seperti kata yang biasa didengar. Namun kalimat ini membuat saya bertahun-tahun mencari artinya, setiap pulang kerja saya selalu merenung sambil memandangi pohon-pohon yang nampak bergerak di balik kaca mobil yang saya tumpangi.
Saya mencari definisi kata “bahagia” yang dikatakan orang pada saya, banyak alasan yang membuat mereka berkata bahwa mereka merasa “bahagia”. Berikut diantaranya berbagai alasan yang mereka kemukakan : “saya bahagia karena mendapatkan uang, mendapatkan uang lembur, bisa berkencan dengan kekasihnya, bisa membeli barang-barang yang mereka inginkan, bisa pergi ke salon dan mempercantik dirinya, dan bisa membeli makanan yang mereka suka”.
Uang jelas segalanya, tapi bukan tolak ukur kebahagiaan karena belum tentu saat semuanya bisa diraih hati merasa “bahagia”, seperti ketika saya bekerja kemudian menghasilkan uang, saya membeli apa yang saya ingin dan akhirnya saya merasa “bahagia” tapi anehnya saya pun merasa bahagia bahkan ketika saya menganggur. Mungkin beberapa orang cukup “bahagia” dengan beberapa lembar uang di dompetnya namun ada yang baru merasa bahagia dengan bermilyar-milyar uang di rekeningnya.
Berdua dengan orang yang dicintai jelas “bahagia” tapi anehnya saya merasa bahagia bahkan ketika Saturday night sendiri di kamar kosan sambil menulis di depan laptop, beberapa teman saya juga pernah berkata “Saya cukup bahagia dengan hanya dinikahi secara sah saja tanpa pesta atau kemewahan lainnya” namun ada yang baru merasa “bahagia” dengan mensyaratkan pesta dan kemewahan, bahkan anak kecil pun terliat “bahagia” ketika dia bermain sendiri di beranda rumahnya.
Mempunyai wajah cantik pastinya menyenangkan tapi beberapa orang merasa tak “bahagia” dengan kecantikan mereka karena mereka sering diganggu pria, beberapaka  orang merasa cantik ketika mereka keluar dari salon tapi beberapa wanita justru merasa cantik ketika mereka tak memoleskan kosmetik atau perawatan apapun di wajah dan tubuhnya.
Beberapa teman saya merasa puas dan “bahagia” ketika mereka bisa makan di restaurant mahal dengan pelayanan eksklusif namun beberapa orang cukup “bahagia” ketika mendapati beras yang bisa dimasak nasi untuk hari itu.
Begitu subjektifnya makna “bahagia” membuat saya baru bisa menarik kesimpulan setelah usia saya 23 tahun bahwa bahagia itu masalah hati, masalah perasaan, dan sayangnya hanya Tuhan lah pemilik semua hati, hanya Tuhan pemilik semua perasaan Jadi apakah arti dari kata “bahagia”? Bahagia itu bersyukur dan ikhlas, kadang merasa “bahagia” membuat kita lupa dan disitulah iman kita diuji, terkadang sakit hati membuat kita jauh dariNya dan disitulah juga iman kita diuji. Saya teringat dengan perkataan seseorang bahwa “Tuhan selalu ada bersama kita, Tuhan akan melihat proses dan Tuhan akan melihat siapa yang paling mau mendekatinya” seperti di dunia bahwa kau tak akan mendapatkan cinta seseorang ketika kau tak mendekatinya sama ketika kau tak akan mendapat kebahagiaan ketika kau tak mensyukuri nikmatNya.
 

My Journey And Dream Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting