Kanker serviks
atau kanker leher rahim atau disebut juga kanker mulut rahim merupakan salah
satu penyakit keganasan di bidang kebidanan dan penyakit kandungan yang masih
menempati posisi tertinggi sebagai penyakit kanker yang menyerang kaum
perempuan
Kanker
serviks merupakan jenis kanker penyebab kematian kedua terbanyak pada wanita di
seluruh dunia, dengan insidens sebesar 25-40 per 100.000 wanita per tahun. Menurut
American Social Health Association, sekitar 6,2 juta orang di Amerika Serikat
terinfeksi Human papiloma Virus (HPV) setiap tahunnya. Sedangkan Globocan
(2008) menunjukan data prevalensi HPV di populasi wanita Indonesia adalah
sekitar 31%.
Penyebab pasti dari kanker serviks belum diketahui secara pasti
namun salah satu factor resikonya adalah infeksi virus HPV
Infeksi
HPV dan Kanker Serviks
Manusia
adalah reservoar utama bagi HPV dan setiap individu dapat terinfeksi oleh lebih
dari satu tipe HPV (infeksi multipel). Lebih dari 100 genotipe HPV telah teridentifikasi,
40 di antaranya menginfeksi sistem genitalia.Tipe HPV genitalia digolongkan
berdasarkan asosiasi epidemiologis dengan kanker serviks. Infeksi HPV tipe low
risk dapat menyebabkan perubahan sel-sel serviks yang bersifat benign
atau low-grade, kutil kelamin, dan papillomatosis. HPV tipe high
risk bersifat karsinogenik, cenderung berkembang menjadi kanker serviks
atau kanker anogenital lainnya. HPV tipe high risk, meliputi tipe 16,18,
31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, 59, 68, 69, 73, dan 82, dapat menyebabkan
abnormalitas low-grade hingga high-grade pada sel-sel serviks
yang merupakan precursor kanker. HPV adalah jenis virus dari keluarga Papillomaviridaedengan
materi inti DNA untai ganda (double-stranded DNA) dan tidak memiliki
selubung (envelope). HPV terdiri dari Early protein (E6 dan E7,
yang diekspresikan pada awal infeksi) dan Late protein (L1 dan L2, yang
berfungsi menghasilkan kapsid untuk virion baru). Genotipe HPV ditentukan oleh
adanya variasi genetik di protein kapsid L1 dan L2, sedangkan yang bersifat
onkogenik adalah E6 dan E7. Aktivasi protein onkogenik pada HPV tipe high
risk menyebabkan terjadinya perubahan epigenetic pada beberapa promoter tumor
suppressor gene (TSG) sehingga dapat menimbulkan kanker Beberapa
studimenunjukkan protein E6 dan E7 pada HPV tipe low risk memiliki
afinitas yang rendah terhadap TSG dibandingkan tipe high risk sehingga
HPV tipe low risk tidak berpotensi menimbulkan kanker. Protein
E6
dan E7 pada HPV tipe low risk hanya berfungsi untuk menjaga stabilitas
episom genomnya.
Kurang
lebih 90% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV tipe high risk.
Meskipun infeksi HPV tipe high risk dapat menyebabkan kanker serviks,
mayoritas infeksi yang terjadi bersifat self-limiting.Hasil penelitian
di tiga kota di Indonesia(Jakarta, Tasikmalaya, dan Bali) tahun 2004-2006, pada
2.686 wanita yang sudah menikah, menunjukkan bahwa prevalensi HPV tipe high
risk adalah sekitar 7,9%. Prevalensi HPV tipe high risk pada 118 sampel
dari beberapa rumah sakit rujukan di laboratorium KalGen adalah 6,8%, yaitu tipe
16 (2), 51 (1), 52 (2), 68 (2) dan 58 (1); tipe low risk yang terdeteksi
adalah tipe 6,43 dan 44.
FAKTOR
RESIKO LAINNYA….
1
Perilaku seksual
Banyak
faktor yang disebut-sebut mempengaruhi terjadinya kanker serviks. Pada berbagai
penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa golongan wanita yang mulai melakukan
hubungan seksual pada usia < 20 tahun atau mempunyai pasangan seksual yang
berganti-ganti lebih berisiko untuk menderita kanker serviks. Faktor risiko
lain yang penting adalah hubungan seksual suami dengan wanita tuna susila (WTS)
dan dari sumber itu membawa penyebab kanker (karsinogen) kepada isterinya. Data
epidemiologi yang tersusun sampai akhir abad 20, menyingkap kemungkinan adanya hubungan
antara kanker serviks dengan agen yang dapat menimbulkan infeksi. Keterlibatan
peranan pria terlihat dari adanya korelasi antara kejadian kanker serviks dengan
kanker penis di wilayah tertentu. Lebih jauh meningkatnya kejadian tumor pada
wanita monogami yang suaminya sering berhubungan seksual dengan banyak wanita lain
menimbulkan konsep “Pria Berisiko Tinggi” sebagai vektor dari agen yang dapat menimbulkan
infeksi. Banyak penyebab yang dapat menimbulkan kanker serviks, tetapi penyakit
ini sebaiknya digolongkan ke dalam penyakit akibat hubungan seksual (PHS). Penyakit
kelamin dan keganasan serviks keduanya saling berkaitan secara bebas, dan diduga
terdapat korelasi non-kausal antara beberapa penyakit akibat hubungan seksual dengan kanker serviks.
2
Kontrasepsi
Kondom
dan diafragma dapat memberikan perlindungan. Kontrasepsi oral yang dipakai
dalam jangka panjang yaitu lebih dari 5 tahun dapat meningkatkan risiko relatif
1,53 kali. WHO melaporkan risiko relatif pada pemakaian kontrasepsi oral sebesar
1,19 kali dan meningkat sesuai dengan lamanya pemakaian.
3
Merokok
Tembakau
mengandung bahan-bahan karsinogen baik yang dihisap sebagai rokok/sigaret atau
dikunyah. Asap rokok menghasilkan polycyclic aromatic hydrocarbon
heterocyclic nitrosamines. Pada wanita perokok konsentrasi nikotin pada getah
serviks 56 kali lebih tinggi dibandingkan di dalam serum. Efek langsung bahan-bahan
tersebut pada serviks adalah menurunkan status imun lokal sehingga dapat menjadi
kokarsinogen infeksi virus.
4.Nutrisi
Antioksidan
dapat melindungi DNA/RNA terhadap pengaruh buruk radikal bebas yang terbentuk
akibat oksidasi karsinogen bahan kimia. Banyak sayur dan buah mengandung
bahan-bahan antioksidan dan berkhasiat mencegah kanker misalnya advokat, brokoli,
kol, wortel, jeruk, anggur, bawang, bayam, tomat. Dari beberapa penelitian
ternyata defisiensi asam folat (folic acid), vitamin C, vitamin E, beta karoten/retinol
dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker serviks. Vitamin E,vitamin C dan
beta karoten mempunyai khasiat antioksidan yang kuat. Vitamin E banyak terdapat
dalam minyak nabati (kedelai, jagung, biji-bijian dan kacangkacangan).Vitamin C
banyak terdapat dalamsayur-sayuran dan buah-buahan.
5
Hygiene yang buruk
Ketika
terdapat virus ini pada tangan seseorang, lalu menyentuh daerah genital, virus
ini akan berpindah dan dapat menginfeksi daerah serviks atau leher rahim Anda.
Cara penularan lain adalah di closet pada WC umum yang sudah
terkontaminasi virus ini. Seorang penderita kanker inimungkin menggunakan closet,
virus HPV yang terdapat pada penderita berpindah ke closet.
Gejala kanker serviks seringkali
disalahartikan oleh wanita sebagai rasa sakit akibat menstruasi atau ovulasi.
Hal ini menyebabkan deteksi kanker serviks menyadi lebih sulit hingga baru diketahui
pada tahap lebih lanjut. Meski begitu, ada beberapa gejala tersembunyi kanker
serviks yang harus diketahui oleh semua wanita, seperti dilansir oleh Health
Me Up (02/01).
1.
Pendarahan tak normal
Wanita yang memiliki
kanker serviks biasanya mengalami pendarahan yang tak normal pada bagian
vagina. Dalam sebulan, pendarahan bisa jadi parah atau hanya sedikit.
2.
Keputihan parah
Gejala kanker
serviks lainnya adalah terjadinya keputihan yang cukup parah. Hal ini tentu
saja berbeda bagi tiap wanita. Beberapa bisa mengalami keputihan yang berbau
tak sedap, tebal, atau sangat berlendir. Jika Anda mendapati keputihan yang tak
biasa sebaiknya segera periksakan diri ke dokter kandungan.
3.
Nyeri panggul
Seseorang bisa saja
mengalami nyeri panggul saat mengalami menstruasi. Hal ini normal.Namun Anda
harus waspada jika nyeri panggul terjadi di saat-saat lainnya. Wanita yang
memiliki kanker serviks biasa mengalami nyeri panggul selama berjam-jam. Rasa
sakit sakit bisa berupa nyeri yang tajam, ringan, atau sangat parah.
4.
Nyeri saat buang air kecil
Merasa sakit dan
nyeri saat buang air kecil bisa dirasakan penderita kanker serviks stadium lanjut.
Hal ini biasa terjadi jika kanker serviks telah menyebar ke kandung kemih.
5.
Pendarahan saat tidak menstruasi,
setelah seks, atau saat pemeriksaan panggul
Terjadinya
pendarahan saat berhubungan seks atau pemeriksaan panggul adalah salah satu
gejala kanker serviks. Hal ini disebabkan oleh iritasi pada leher rahim selama
beraktivitas. Meski begitu, ada banyak hal yang bisa menyebabkan pendarahan
setelah aktivitas atau seks pada wanita.
Karena
tidak ada gejala khusus dalam kasus kanker serviks maka deteksi dini adalah cara
terbaik untuk mencegahnya
Deteksi
Dini Kanker Serviks
Deteksi
dini kanker serviks yang ideal adalah pemeriksaan Papanicolaou (dikenaldengan
sitologi Pap smear), baik sitologi konvensional maupun berbasis cairan, yang
dikombinasikan dengan pemeriksaan DNA HPV. Menurut NCCN Guidelines ver1.2011
Cervical Cancer Screening, deteksi dini kanker serviks dengan sitologiPap
smear dimulai saat wanita berumur 21 sampai 29 tahun dengan frekuensi
pemeriksaan setiap 2 tahun. Bagi wanita umur 30 tahun atau lebih, selain
sitologi, juga disarankan untuk menjalani pemeriksaan DNA HPV. Apabila
ditemukan hasil negatif pada pemeriksaan sitologi dan DNA HPV, pemeriksaan dapat
kembali dilakukan setelah 3 tahun.
Metode
Pemeriksaan Sitologi dan DNA HPV
Deteksi
dini kanker serviks dilakukan dengan pemeriksaan sitologi dan DNA HPV menggunakan
spesimen berupa sel-sel serviks. Untuk memastikan kualitas sampel yang baik,
area pengambilan specimen difokuskan pada zona transformasi (zona antara bagian
ektoserviks dan endoserviks). Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan 3600
mengelilingi zona transformasi sebanyak 5 kali. Sampel untuk pemeriksaan
sitologi dan DNA HPV sebaiknya mengandung sel-sel endoserviks sebagai parameter
bahwa selsel di zona transformasi juga sudah terambil. Pada masa lalu, sampel
yang tidak mengandung sel-sel endoserviks disarankan untuk dilakukan
pemeriksaan ulang. Namun, beberapa studi menunjukkan wanita dengan hasil
sitologi negatif tanpa sel endoserviks tidak lebih tinggi resikonya untuk mendapatkan
lesi serviks di kemudian hari, dibandingkan wanita dengan hasil sitologi negatif
dan sampelnya mengandung sel endoserviks. Deteksi dini kanker serviks melalui
pemeriksaan sitologi Pap smear, baik konvensional maupun berbasis
cairan, bersama dengan pemeriksaan DNA HPV harus menjadi prioritas bagi setiap
wanita agar risiko kematian akibat kanker serviks dapat dicegah.

0 comments:
Post a Comment