“Saya Bahagia”
“Iya, saya bahagia” terlintas seperti kata
yang biasa didengar. Namun kalimat ini membuat saya bertahun-tahun mencari
artinya, setiap pulang kerja saya selalu merenung sambil memandangi pohon-pohon
yang nampak bergerak di balik kaca mobil yang saya tumpangi.
Saya
mencari definisi kata “bahagia” yang dikatakan orang pada saya, banyak alasan
yang membuat mereka berkata bahwa mereka merasa “bahagia”. Berikut diantaranya
berbagai alasan yang mereka kemukakan : “saya bahagia karena mendapatkan uang,
mendapatkan uang lembur, bisa berkencan dengan kekasihnya, bisa membeli
barang-barang yang mereka inginkan, bisa pergi ke salon dan mempercantik
dirinya, dan bisa membeli makanan yang mereka suka”.
Uang
jelas segalanya, tapi bukan tolak ukur kebahagiaan karena belum tentu saat
semuanya bisa diraih hati merasa “bahagia”, seperti ketika saya bekerja
kemudian menghasilkan uang, saya membeli apa yang saya ingin dan akhirnya saya
merasa “bahagia” tapi anehnya saya pun merasa bahagia bahkan ketika saya
menganggur. Mungkin beberapa orang cukup “bahagia” dengan beberapa lembar uang
di dompetnya namun ada yang baru merasa bahagia dengan bermilyar-milyar uang di
rekeningnya.
Berdua
dengan orang yang dicintai jelas “bahagia” tapi anehnya saya merasa bahagia
bahkan ketika Saturday night sendiri di kamar kosan sambil menulis di depan
laptop, beberapa teman saya juga pernah berkata “Saya cukup bahagia dengan
hanya dinikahi secara sah saja tanpa pesta atau kemewahan lainnya” namun ada
yang baru merasa “bahagia” dengan mensyaratkan pesta dan kemewahan, bahkan anak
kecil pun terliat “bahagia” ketika dia bermain sendiri di beranda rumahnya.
Mempunyai
wajah cantik pastinya menyenangkan tapi beberapa orang merasa tak “bahagia” dengan
kecantikan mereka karena mereka sering diganggu pria, beberapaka orang merasa cantik ketika mereka keluar dari
salon tapi beberapa wanita justru merasa cantik ketika mereka tak memoleskan
kosmetik atau perawatan apapun di wajah dan tubuhnya.
Beberapa
teman saya merasa puas dan “bahagia” ketika mereka bisa makan di restaurant
mahal dengan pelayanan eksklusif namun beberapa orang cukup “bahagia” ketika
mendapati beras yang bisa dimasak nasi untuk hari itu.
Begitu
subjektifnya makna “bahagia” membuat saya baru bisa menarik kesimpulan setelah
usia saya 23 tahun bahwa bahagia itu masalah hati, masalah perasaan, dan
sayangnya hanya Tuhan lah pemilik semua hati, hanya Tuhan pemilik semua
perasaan Jadi apakah arti dari kata “bahagia”? Bahagia itu bersyukur dan
ikhlas, kadang merasa “bahagia” membuat kita lupa dan disitulah iman kita diuji,
terkadang sakit hati membuat kita jauh dariNya dan disitulah juga iman kita
diuji. Saya teringat dengan perkataan seseorang bahwa “Tuhan selalu ada bersama
kita, Tuhan akan melihat proses dan Tuhan akan melihat siapa yang paling mau
mendekatinya” seperti di dunia bahwa kau
tak akan mendapatkan cinta seseorang ketika kau tak mendekatinya sama ketika kau tak akan mendapat kebahagiaan ketika
kau tak mensyukuri nikmatNya.

0 comments:
Post a Comment