Bumi terus
berotasi, siang dan malam seperti sudah biasa begitu adanya, tak pernah
terfikir olehku jika planet-planet sudah tak beredar pada orbitnya dengan jarak
yang teratur, mungkin dunia sudah kiamat. Ah sudahlah, kadang tanamanpun bisa hidup berdampingan jika
berjarak terlalu dekat justru membuat mereka layu dan mati. Pagi masih
bersahabat hari ini, lorong-lorong masih begitu sepi dan belum banyak orang,
sesekali kulihat para perawat yang tampak kelelahan sehabis berjaga di malam
hari. Sejenak terbesit dalam hati bahwa aku tak ingin seperti ini, saya ingin
menjadi apa yang dulu saya impikan.
Hati saya memang terlalu kompleks, tapi saya tersadar
bahwa ini bukan sekadar rasa “ingin” yang tak sampai, mungkin saya hanya harus
beradaptasi karena yang saya inginkan belum tentu yang terbaik menurutNya.
Ketika saya mulai mengikhlaskan
keinginan saya, tiba-tiba memori masa lalu mengganggu otak dan fikiran saya,
mereka seolah ada menemani saya, mereka
seolah masih bersama saya menemani saya
untuk sekadar menonton film horror, menikmati eskrim, ataupun sekadar
menstalking social media milik orang-orang tersayang. Dulu kami mempunyai
cita-cita yang sama, cita-cita yang lebih tinggi dari yang sedang kami jalani
sekarang, namun begitulah hidup, mengikuti pilihan dari berbagai pilihan yang disediakan Tuhan. Dulu
memilih mereka dan meminta mereka disamping saya membuat saya merasa lebih baik
meskipun banyak keinginan yang belum tercapai dan berbagai pilihan yang
sebenarnya tak ingin saya pilih.
Sayangnya akhirnya kita harus berjarak, kita harus
tumbuh dan berkembang mengikuti pilihan yang disediakan, mengikuti rencana
Tuhan, mengikuti pilihan cinta yang ada,
menghirup bersama udara dunia di masing-masing kota kesayangan kita, meskipun
kita tau kota kesayangan kita adalah kota satria. Memilih prioritas ditengah
prioritas yang paling prioritas, memilih sendiri atau bersama namun kita tak
berkembang. Apapun itu kalian tetap pilihanku, yang telah menjadi hujan saat
tanah begitu gersang, yang telah menjadi awan ketika cuaca begitu panas. Bahkan
tingkah menyebalkan dan kemarahan kalian selalu tersimpan di memoriku yang ku
simpan sebagai kenangan baik, entah mengapa tapi aku memang begitu. Semoga
kalian sempat stalking di blogku dan membacanya di tengah kesibukan kalian, dan
tak usah menanyaiku karena pasti kalian tau jawabanku adalah “no coment” hehehe :) :)


0 comments:
Post a Comment