Angin berhembus, itulah kamu.
Tak nampak, tapi tak pernah membuatku sendiri.
Tak bicara, tapi matamu selalu mengajakku berdialog.
Hei kamu yg selalu hadir dalam dialogku bersama sang pencipta.
Yang kuanalogikan seperti hujan rinai-rinai yg turun disaat ku merasa berada di lahan yang tandus.
Yang membuatku berharap-harap saat tak ada harapan.
Yang bisa membuatku
yakin dalam ketidakpastian.
Hei kamu, aku bahkan lebih suka dengan ketidakhadiranmu daripada kehadiran mereka.
Aku bahkan lebih percaya ketidaksetianmu daripada kesetiaan mereka.
Hei kamu angin yang berhembus, kamu pasti akan datang membawa butiran uap air yg akan menjadi hujan.
Itulah kamu, apapun kamu, aku lebih menyukaimu :)
Tak nampak, tapi tak pernah membuatku sendiri.
Tak bicara, tapi matamu selalu mengajakku berdialog.
Hei kamu yg selalu hadir dalam dialogku bersama sang pencipta.
Yang kuanalogikan seperti hujan rinai-rinai yg turun disaat ku merasa berada di lahan yang tandus.
Yang membuatku berharap-harap saat tak ada harapan.
Yang bisa membuatku
yakin dalam ketidakpastian.
Hei kamu, aku bahkan lebih suka dengan ketidakhadiranmu daripada kehadiran mereka.
Aku bahkan lebih percaya ketidaksetianmu daripada kesetiaan mereka.
Hei kamu angin yang berhembus, kamu pasti akan datang membawa butiran uap air yg akan menjadi hujan.
Itulah kamu, apapun kamu, aku lebih menyukaimu :)


0 comments:
Post a Comment